Celli adalah kucing ras persia betina berumur 2.5 tahun pasien Klinik Hewan Galuh Mas yang datang dibawa ownernya pada tanggal 28 Oktober 2017 dengan keluhan terjadi perdarahan dan keluar cairan berwarna kekuningan dari vagina sejak 3 hari yang lalu. Dari serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, Celli didiagnosa mengalami pyometra. Berdasarkan anamnesa, perut kucing ini membesar, keras, kencang, dan ada respon sakit. Keadaan ini mirip seperti hewan yang sedang bunting dan yang mengalami ascites. Terapi yang dilakukan adalah dengan dilakukan operasi ovariohisterektomi.
Pengambilan ultrasonography (USG) dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Dari gambaran USG terlihat bahwa di dalam uterus kucing tidak ditemukan adanya fetus, melainkan cairan dan adanya penebalan pada dinding uterus, sehingga pembesaran di perut bukan karena bunting tetapi karena pyometra. Diagnosa pyometra selain menggunakan USG juga dapat dilakukan dengan bantuan radiografi (Bigliardi et al. 2004). Rontgen di daerah lateral abdominal dapat digunakan untuk mengidentifikasi cairan yang mengisi uterus dan biasanya terlihat diantara kolon descenden dan kantung kemih.
Pyometra merupakan suatu infeksi yang terjadi pada uterus hewan betina. Di dalam uterus terakumulasi cairan pus (nanah). Kondisi ini terjadi setelah hewan betina mengalami beberapa siklus estrus dengan tidak diikuti kebuntingan. Abnormalitas hormon menyebabkan dinding uterus mengalami penebalan. Pada saat kondisi ini terjadi, cairan akan mulai mengisi dinding uterus yang mengalami penebalan, terjadi infeksi dan uterus akan terisi cairan berupa nanah karena pertahanan tubuh terhadap infeksi. Pada saat kondisi estrus, serviks akan terbuka dan bakteri yang secara alami dapat ditemukan di vagina secara mudah dapat masuk ke dalam uterus. Jika uterus dalam kondisi normal, bakteri-bakteri tersebut tidak akan bertahan hidup. Namun, disaat dinding uterus mengalami penebalan dan cystic, maka itu akan menjadi kondisi yang baik untuk perkembangan bakteri. Hal ini dikarenakan otot-otot dari uterus tidak bekerja secara sempurna sehingga bakteri tidak dapat dikeluarkan. Pyometra sering tidak terdeteksi pada awal infeksi, biasanya pyometra baru diketahui pada saat penyakit sudah parah. Kucing betina yang terkena pyometra dapat menunjukkan gejala klinis keluar discharge pada vagina (pyometra terbuka) atau tanpa mengeluarkan discharge (pyometra tertutup). Pyometra harus segera ditangani untuk mencegah terjadinya sepsis dan kematian pasien (Smith 2006). Tipe pyometra pada kucing Celli adalah pyometra terbuka karena adanya discharge yang keluar dari vagina.
Gejala klinis pyometra pada kucing betina antara lain adanya penurunan nafsu makan, depresi, polidipsi (banyak minum), lethargi, dan distensi abdominal dengan atau tanpa adanya discharge vagina. Hasil pemeriksaan darah kucing yang menderita pyometra antara lain jumlah sel darah putih sangat tinggi dibandingkan kisaran normal. Pada kasus kucing Celli tidak dilakukan pemeriksan darah sehingga gambaran darah kucing Celli tidak diketahui. Discharge pada vagina dapat bersifat purulen, sanguinopurulen, mukoid, atau seperti pendarahan (Smith 2006).
Anamnesa dari owner, kucing Celli sebelumnya juga sempat dikawinkan. Penyebab pyometra Celli kemungkinan juga dapat disebabkan karena abortus karena mengalami perdarahan dan retensi plasenta (plasenta yang tidak keluar dengan sempurna) sehingga mengakibatkan infeksi. Retensi plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induk dalam waktu 1-12 jam setelah kelahiran. Jika pengeluaran fetus membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu tersebut, maka hal tersebut harus dipandang sebagai suatu keadaan tidak normal atau patologi karena selaput fetus akan mengalami pembusukan dan dapat bersifat racun terhadap uterus. Retensi plasenta bisa diakibatkan karena gangguan mekanis, yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus tetapi tidak dapat terlepas keluar dari alat kelamin karena masuk ke dalam kornua uteri atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga plasenta terjepit. Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan plasenta disebabkan adanya atoni uteri dan defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus seperti oksitosin dan estrogen. Retensi plasenta juga bisa disebabkan karena adanya radang akut disertai infiltrasi lemak dalam plasenta, induk yang terlalu cepat melahirkan (partus prematura), faktor alergi, induk yang kekurangan vitamin dan mineral selama bunting atau pemberian multivitamin berlebihan yang diberikan menjelang partus (Jackson 2004). Pada kasus ini, retensi plasenta kucing Celli diduga karena partus prematura.
Pada kasus kucing Celli, penanganan yang dilakukan adalah dengan melakukan ovariohisterektomi dengan pertimbangan kondisi uterus yang sangat besar dan terutama untuk mencegah terjadinya sepsis yang dapat mengakibatkan kematian. Pada saat operasi, antibiotik berspektrum luas marbofloxacin diberikan. Marbofloxacin merupakan turunan fluorokuinolon yang memiliki karakteristik umum yaitu penyerapan yang baik, diserap dengan baik dari tempat injeksi parenteral dan juga didistribusikan ke berbagai jaringan dalam tubuh (Wagman & Wentland 2007). Pada hewan kesayangan, seperi kucing dan anjing, marbofloxacin digunakan untuk mengobati infeksi kulit, jaringan lunak dan saluran kemih (Bucknall et al. 2003). Terapi antibiotik pada kucing Celli diberikan selama satu minggu.
Gambar 1. Uterus kiri kucing Celli mengalami Pyometra.
Kucing Celli dirawat selama 4 hari di klinik. Tanggal 29 Oktober 2017 dilakukan operasi, dan pada tanggal 31 Oktober 2017 Celli sudah dibawa pulang oleh ownernya.
DAFTAR PUSTAKA
Bigliardi E et al. 2004. Ultrasonography and Cystic Hyperplasia–Pyometra Complex in the Bitch. Reprod Domest Anim 39:136–40.
Bucknall S, Silverlight J, Coldham N, Thorne L & Jackman R. 2003. Antibodies to the Quinolones and Fluoroquinolones for the Development of Generic and Specific Immunoassays for Detection of these Residues in Animal Products. J. of Food Addtv and Contam 20: 221-228.
Jackson PGG. 2004. Handbook of veterinary obstetric. Elsevier: Saunders.
Smith FO. 2006. Canine pyometra. Theriogenology 66:610-612.
Wagman AS & Wentland MPM. 2007. Quinolone Antibacterial Agents. Comprehensive Medicinal Chemistry, 7, 567-596.
Leave a comment